jaga Akar, Merawat Tradisi: Nyadran Watu Putri Kasihan *Nguri-uri Kebudayaan Jawi,

WASIYANTA 21 Mei 2026 20:40:27 WIB

Pada tanggal 21 April, suasana khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti Kalurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Pemerintah Kalurahan Balong bersama seluruh warga masyarakat kembali bersatu padu melaksanakan sebuah warisan leluhur yang sarat akan makna: *Upacara Adat Nyadran Watu Putri Kasihan*.

Prosesi tahunan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata dari komitmen kolektif warga untuk nguri-uri (melestarikan dan menghidupkan) kebudayaan Jawa agar tak lekang oleh waktu.

Sinergi Tradisi dan Kepercayaan Lokal

Pusat dari prosesi ini tertuju pada *Watu Putri* (atau yang kerap disebut warga sebagai Batu Putih). Menurut keyakinan dan kisah turun-temurun masyarakat setempat, batu ini diyakini sebagai tempat bernaung atau petilasan. Menghormati tempat ini menjadi simbol rasa hormat terhadap sejarah, alam, dan kisah-kisah yang telah membentuk identitas geografis serta spiritual warga Balong.

Rangkaian Prosesi yang Penuh Makna

Proses Pengumpulan Tumpeng Nyadran
Warga masyarakat berkumpul dengan membawa tumpeng dan sesajian (uba rampe). Prosesi ini diawali dengan menata tumpeng bersama di hadapan area sakral, menandai dimulainya momen doa dan kebersamaan.
Penghormatan Tradisi & Warisan Generasi
Suasana khusyuk begitu terasa saat sesepuh adat dan generasi muda duduk bersila bersama. Di sinilah estafet nilai-nilai luhur terjadi—semangat kebersamaan lintas generasi demi menjaga akar budaya agar tetap kokoh.

Kebersamaan dan Rasa Syukur (Kembul Bujana)
Melalui hidangan tumpeng yang dinikmati bersama dan doa yang dipanjatkan, tali persaudaraan antarwarga dipererat. Tidak ada sekat; semua membaur dalam rasa syukur atas berkah alam dan kedamaian desa.
Puncak Acara
Doa bersama dan silaturahmi menjadi inti sekaligus penutup dari kegiatan rutin ini. Dengan kalimat "Wilujeng Rawuh wonten ing Nyadran Watu Putri Kasihan Desa Balong", seluruh elemen masyarakat melepas ego dan bersatu dalam pengharapan keselamatan (keslametan) bagi seluruh warga desa.

Kekayaan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari apa yang kasat mata, melainkan dari seberapa erat warganya memeluk erat tradisi dan sejarahnya

Melalui Upacara Adat Nyadran Watu Putri Kasihan, Pemerintah Kalurahan Balong dan masyarakat membuktikan bahwa modernitas zaman tidak akan pernah melunturkan rasa hormat kepada para leluhur dan bumi tempat kita berpijak.

Rahayu, Rahayu, Rahayu.
Kalurahan Balong, Girisubo, Gunungkidul.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Galeri Foto
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial